Rabu, 22 Juli 2026

Rencana Akhir Hayat yang Kutulis di Kedai Kopi

Wheatfield with Crows by Van Gogh

Trigger Warning:

Tulisan ini mengandung informasi yang berkaitan dengan topik sensitif. Baca kembali judul unggahan ini. Pastikan hatimu kuat dan tenang. Engkau tahu betul kapasitas tubuh, hati, dan kepalamu. Jadi, bijaksanalah.

Aku telah menentukan di mana pusaraku akan bersemayam dan kapan tubuh ini akan kehilangan jiwanya. 

Sebagai makhluk yang seringkali enggan untuk meminta bantuan, aku sudah merencanakan bagaimana semuanya akan berlangsung. Semua itu kutata dengan rapi agar aku tidak memberikan beban apa pun, kepada siapa pun. Aku ingin mengembuskan napas terakhir dan tidak memberatkan sama sekali, baik itu orang-orang yang dekat denganku apalagi yang tak mengenaliku sama sekali.

Menjelang akhir hidup yang penuh perhitungan ini, aku pun menyusun beberapa rencana yang ingin kucapai terlebih dahulu. Rencana ini akan terdengar kekanakan atau tidak serius sama sekali. Namun, saat engkau menjemput ajal dengan penanggalan sendiri, kamu akan selalu mengutamakan hal-hal yang menguarkan kebahagiaan walaupun kepalamu ribut dan hatimu tak pernah menemukan denyut yang menenangkan.

Waktuku kurang dari setahun lagi. 

Ada beberapa hal yang ingin kulakukan dalam rentang waktu ini. Pertama, aku ingin menerbitkan novelku. Tumbuh dan berkembang dengan dikelilingi buku dan pencinta buku membuatku ingin membuahkan satu novel. Aku sedang mencoba untuk menyelesaikan novel saat tulisan ini dibuat. Semoga saja, aku bisa menyelesaikannya dan ada penerbit yang sudi menerbitkannya. Aku ingin hidup dalam tiap kata yang kutulis. Aku ingin dikenang melalui kisah yang kutulis dengan penuh kasih sayang itu.

Kedua, aku ingin mengunjungi pusara ayahku di luar kota. Dulu, sebagai orang yang memiliki thanatopobhia, aku enggan untuk mengunjungi tempat peristirahatan terakhir ayahku. Saat itu, usiaku menginjak tujuh belas tahun, baru saja menginjakkan kaki di kampus. Rasa sakit dan hilang yang muncul di hatiku sangat kentara, tetapi aku terlalu pengecut untuk hadir pada prosesi penguburan. Namun, akan kuhadapi rasa takut ini demi bersimpuh di samping makammu, Pah. Aku akan duduk di sana sembari menceritakan hidupku setelah ditinggalkan olehmu. Aku hilang arah.

Ketiga, aku ingin berkunjung ke Yogyakarta dan Bali untuk terakhir kalinya. Aku telah menemukan rumahku di sana; di antara gang-gang menuju Malioboro, pada setiap jengkal Jalan Kaliurang, dalam tiap bulir pasir di garis pantai Bali, dan riuh rendah jalanan Legian menjelang tengah malam. Aku ingin melakukan penelusuran terakhir sembari bertemu sahabat-sahabatku, mengucapkan salam perpisahan diam-diam. Memeluk mereka selama mungkin, merayakan hidup mereka dan bersyukur karena semesta mempertemukan kami pada lajur yang tepat.

Selanjutnya, akan kuhidupkan kembali blog ini pada denyut-denyut terakhirnya dan, tentu saja, akan kuisi dengan prosesku mengenang hidup dan orang-orang di dalamnya. Blog ini sudah menemaniku sejak bertahun-tahun lalu. Di dalamnya, kutuliskan segala keluh kesah dan pengalaman yang membentukku menjadi pribadi saat ini. Jika engkau merindukanku (kutulis ini dengan penuh percaya diri), telusurilah alur pikiran dan perasaanku di sini. Aku tak menjanjikan sesuatu yang revolusioner atau tulisan bermutu, tetapi engkau bisa mengenangku lewat unggahan itu.

Aku pun telah menuliskan seputar hal yang kaubisa lakukan setelah aku mati. Damn, sejak tadi kuusahakan untuk menghindari kata ini. Merinding juga aku membacanya. Hehe

Hidup terus berjalan untukmu. Aku mendoakanmu bisa menghadapi segala naik-turun yang terjadi. Mengutip Eyang Sapardi, "Aku mencintaimu. Itulah sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu." Aku melayangkan doa-doa sebisaku kepada semesta agar kamu senantiasa hidup penuh kasih sayang, dikelilingi orang yang tak pernah lelah mendukung mimpimu dan memanen tawamu. Aku harap engkau selalu terbangun dengan napas dan detak jantung yang nyaman, tanpa ada apa pun yang membebanimu. 

Menulis ini membuat tangisku luruh. Bukan karena aku gentar dengan apa yang akan kulakukan, melainkan membayangkan kemungkinan aku tak bisa bertemu denganmu lagi pada kehidupan selanjutnya. Jika hidup kembali ke titik nol dan kehidupan manusia dimulai kembali dari awal, semoga kita bisa bertemu kembali. Jika tak bertemu, akan kucari kamu di segala penjuru.

Ini adalah salah satu keputusan teryakin yang pernah kuambil. Mari kita rayakan hidup yang makin singkat ini!

0 Comments:

Posting Komentar