Sabtu, 08 Agustus 2026

Ihwal Bahasa yang Gugur

First Steps (1890) by Vincent Van Gogh

Aku baru saja membaca sebuah tulisan di Guardian ihwal apa yang terjadi saat sebuah bahasa gugur. Pembahasannya berkutat tentang hal-hal yang lenyap bersama punahnya sebuah bahasa. Bukan hanya sekumpulan kata, tetapi sejarah yang membangunnya, ilmu yang tertanam di dalamnya, tradisi, dan bagaimana para penutur melihat dunia.

Saat tulisan itu selesai kubaca, pikiranku kembali memutarkan memori tentang Bapak.

Bapak tidak terampil berbahasa Sunda. Sepanjang hidupnya, beliau lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dan Arab saja. Namun, saat berbincang denganku, ada satu kata berbahasa Sunda yang selalu ia selipkan di antara sekumpulan kosakata bahasa Indonesia: kanyaah.

Aku tahu kata yang sejajar dengan kanyaah dalam bahasa Indonesia. Kesayangan; seseorang yang disayangi dan dikasihi. Namun, ada hal yang membuat kesayangan tidak setara dengan kanyaah dalam kamus kehidupanku.

Saat Bapak menuturkan kata kanyaah, ada sesuatu yang jauh lebih mendalam dari sekadar kesayangan. Cara beliau melafalkan tiap suku katanya, bagaimana suaranya melembut disertai tatapan yang meluapkan kasih sayang, gestur beliau yang terkadang sembari mengacak rambutku atau sekadar merengkuhku ke dalam pelukannya. Ada sesuatu yang jauh lebih sakral di dalam kata itu, dan aku menyukai hal itu.

Lalu, Bapakku mengembuskan napas terakhirnya.

Seketika, kanyaah mulai menemukan ajalnya dalam kehidupanku. Ia pergi bersama Bapak. Sepanjang ingatanku, tak ada lagi yang menghidupkan kembali kata itu.

Dalam jangka waktu yang cukup lama, aku berusaha untuk tidak menjadikan hal ini sebagai sebuah beban. Kanyaah hanyalah sebuah kata dari ribuan lema dalam kamus bahasa Sunda. Namun, membaca tulisan tentang punahnya sebuah bahasa membuatku menerjemahkan kisahku dari sudut pandang yang berbeda.

Apa yang benar-benar terjadi saat sebuah bahasa hilang dalam kehidupan kita?

Bagaimana jika, pada suatu hari yang tenang, tak ada lagi orang-orang terdekatmu yang memahami bahasa itu?

Ada sesuatu yang cukup melelahkan dari memikul sesuatu yang tak lagi memiliki tempat untuk berlabuh. Sebuah kata menjadi asing ketika tidak ada lagi orang yang memahaminya tanpa perlu diterjemahkan. Lama-kelamaan, kita mungkin akan terbiasa menggantinya dengan kata lain. Kita memilih kata yang lebih mudah dipahami, lebih lazim digunakan, lebih sesuai dengan bahasa yang sehari-hari mengelilingi kita.

Mungkin, pada akhirnya, melupakan akan terasa jauh lebih sederhana. Bukankah akan lebih melegakan jika aku berhenti mengingat kata itu? Jika tak ada lagi yang menggunakannya kepadaku, untuk apa aku terus menyimpannya? Bukankah sebuah kata memang membutuhkan penutur agar tetap hidup? Banyak sekali pertanyaan dalam kepalaku ini.

Namun, ada bagian dalam diriku yang menolak merasa lega. Sebab, semakin kupikirkan, semakin kusadari bahwa aku sebenarnya tidak takut melupakan kata itu Aku takut melupakan apa yang tersimpan di dalamnya.

Kanyaah bukan lagi sekadar sebuah kata bagiku. Ia menyimpan sebuah hubungan. Ia menyimpan masa kecil. Ia menyimpan cara Bapak memandangku, cara tangannya mengacak rambutku, cara suaranya melembut ketika kata itu keluar dari mulutnya.

Aku paham betul kanyaah berarti kesayangan. Namun, kesayangan tidak pernah benar-benar menjadi kanyaah.

Mungkin inilah sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh kamus. Kamus dapat memberi tahu kita arti sebuah kata, tetapi tidak dapat menjelaskan mengapa sebuah kata terasa berbeda ketika dituturkan oleh orang tertentu. Kamus dapat memberi padanan, tetapi tidak dapat memindahkan seluruh ingatan yang telah bertahun-tahun hidup dalam suatu kata.

Barangkali, bahasa memang menyimpan lebih banyak hal daripada yang mampu kita ucapkan. Ia dapat menyimpan sejarah dan pengetahuan. Ia dapat menyimpan tradisi dan cara suatu masyarakat memandang dunia. Namun, ia juga dapat menyimpan sesuatu yang jauh lebih kecil; sebuah hubungan yang agung antara seorang bapak dan anaknya.

Dan mungkin, kehilangan bahasa tidak selalu terjadi dalam skala yang besar. Tidak selalu tentang ribuan penutur yang perlahan berhenti menggunakannya. Kadang-kadang, sebuah bahasa gugur dengan begitu sunyi. Ia gugur dari sebuah percakapan yang digunakan oleh sebuah keluarga. 

Aku mulai bertanya-tanya apakah sebuah bahasa masih dapat disebut hidup ketika hanya satu orang yang menyimpannya dalam ingatan. Jika aku masih mengingat kanyaah, tetapi tidak ada lagi yang menuturkannya kepadaku, apakah kata itu masih hidup? Jika aku tahu artinya, tetapi tidak lagi menemukan tempat untuk menggunakannya, apakah aku sedang mempertahankan sebuah bahasa, atau hanya mempertahankan sebuah kenangan?

Aku tidak tahu.

Mungkin suatu hari nanti kanyaah akan menjadi kata yang semakin asing bagiku. Mungkin aku akan semakin jarang mengucapkannya. Mungkin, pada akhirnya, aku benar-benar akan lupa. Dan mungkin itulah yang membuatku tidak ingin merasa lega. Sebab ada hal-hal yang kita simpan bukan karena ia masih berguna, melainkan karena melepaskannya terasa seperti kehilangan sesuatu untuk kedua kalinya.

Tulisan tentang punahnya bahasa itu awalnya membuatku berpikir tentang bahasa-bahasa yang perlahan menghilang dari dunia. Namun, setelah selesai membacanya, aku justru memikirkan sesuatu yang jauh lebih dekat. Mungkin kehilangan bahasa juga dapat terjadi dalam skala yang kecil. Mungkin, pada akhirnya, yang tersisa hanyalah satu kata yang masih kita ingat.

"Kanyaah Bapak! Bangga bapak mah da ka dede téh."

Pak, hidup terus di kepalaku, ya? 

0 Comments:

Posting Komentar