Beberapa bulan setelah pengalaman Bali pertamaku, akhirnya kaki ini kembali menyentuh pasir pantai di Pulau Dewata. Jika sebelumnya aku melancong sendirian dengan dalih merayakan ulang tahun sekaligus menikmati Nyepi pertama, kali ini aku memesan tiket untuk berlibur dengan seorang teman. Billy namanya.
Dulu, aku menikmati Bali dengan pace milikku tanpa itinierary, tanpa terburu-buru, tanpa perlu menyamakan langkah dan isi kepala dengan siapa pun. Kini, Bali yang sama menghadirkan sensasi yang berbeda. Bukan karena pantainya berubah atau matahari tenggelam dan terbitnya lebih indah, melainkan karena untuk pertama kalinya aku berbagi perjalanan ini dengan orang lain.
Sebagai seorang individu yang tidak becus menyeimbangkan motor, Billy (dengan dipaksa keadaan dan kebaikannya yang tiada tara) menjadi pengendara motor sewaan kami selama di Bali. Berkat itu, kami bisa menjelajahi lebih banyak kafe dan restoran yang menarik. Beberapa bahkan menjadi titik favorit yang rasanya akan sulit kulupakan; Dough Darlings dengan Ispahan yang menggiurkan, Revolver dengan minuman kombinasi cokelat dan espreso yang ciamik, Bunana dengan teh tarik dan roti canainya yang hemat di kantong tapi kaya rasa, dan masih banyak lagi.
Oke, rasa makanan-minuman yang aku cicip luar biasa meledak di lidahku. Namun, yang paling kuingat justru bukan hanya rasa kopi dan donatnya. Ada jeda-jeda kecil yang menjelma momen seru bersama Billy. Setiap kali kami mencecap sesuatu yang nikmat di luar nalar, kami langsung saling menatap seakan tidak percaya dengan indra perasa kami. Billy selalu menyodorkan gelasnya sambil berkata, "Coba deh." Lalu kami saling bertukar minuman. Hal-hal sesederhana ini rupanya ikut membuat tempat-tempat tersebut terasa lebih hidup di ingatanku.
Sorotan lain dari perjalanan kali ini adalah rutinitas kecil yang nyaris kulakukan setiap pagi. Aku berjalan ke area pantai, menggelar kain, dan tenggelam dengan buku yang sedang kubaca. Halaman demi halaman bacaanku ditemani oleh suara debur ombak yang bersahutan, orang-orang yang berlari di tepi pantai, beberapa anjing yang sesekali mendekat lalu menjauh, juga para peselancar yang berlatih menjinakkan ombak. Walhasil, buku Makamkan Ibu di Samping Ayah berhasil kuselesaikan di Bali.
Berbicara tentang buku, perjalanan ini juga mempertemukanku kembali dengan Vera. Kali ini ia bukan hanya menjabat sebagai saudara tak-seibu-tak-sebapak, tetapi juga sebagai rekan membacaku. Sejak bulan lalu, kami menasbihkan diri sebagai sepasang rekan baca yang akan saling bertukar buku dan bertemu pada akhir bulan untuk berbagi kisah dari bacaan masing-masing. Karena kebetulan aku sedang di Bali, akhirnya kami memutuskan untuk bertemu secara langsung. Ah, bertemu dengan tetehku yang satu ini selalu membuatku tenang dan senang. Apalagi sembari mengobrol seputar buku!
Hal lain yang akan terukir di kepalaku adalah seputar perjalananku ke Uluwatu. Sejak lama aku tahu daerah selatan Bali ini memiliki daya tarik yang magis. Bahkan sebelum benar-benar datang, video-video yang berseliweran di TikTok sudah cukup membuatku terpukau. Akhirnya, dua dari lima hari liburan kami habiskan di sana.
Kami menjejakkan kaki di Suluban pada tengah hari, ditemani oleh banyak turis yang sedang berjemur dan beberapa anjing yang tampaknya ikut menikmati pantai. Pantai kedua yang kami kunjungi jauh lebih tenang. Namanya Pantai Thomas. Pengunjungnya tidak terlalu banyak, sehingga suasanya terasa lebih damai. Pada hari berikutnya, kami menghabiskan waktu di Padang Padang, ditemani oleh suara alat musik tradisional Bali dan deretan wisatawan asing di pasir pantai, menggelapkan kulit masing-masing. Di pantai ini, kami tidak terlalu banyak berenang karena banyak sekali batu karang. Menjelang sore, kami menikmati matahari terbenam di Dreamland. Pada saat itu, aku ingin sekali mengerat sepotong senja dan menyimpannya di tas selempangku. Bukan untuk diberikan kepada seseorang seperti intensi Sukab dalam cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku. Namun, untuk kubuka lagi pada hari-hari ketika pekerjaan terasa terlalu bising dan hidup berjalan dengan tergesa.
Walaupun kaki ini berkali-kali ingin menyerah setiap kali menuju dan meninggalkan satu pantai, tetapi aku bersyukur datang bersama Billy yang semangatnya seolah tidak pernah habis. Bahkan, dia berkali-kali merapal mantra, "This is what I want. This is a beautiful life," untuk menangkal pikiran negatif.
Aku sempat menertawakan mantra itu. Kalimatnya terdengar berlebihan dan cara Billy mengucapkannya juga sangat komikal. Aku juga sesekali meniru ungkapan itu. Namun, seiring kaki ini berusaha menaiki anak tangga, semakin aku sadar bahwa kami mengucapkan mantra itu dengan sungguh-sungguh. Ucapan itu benar adanya. Ini adalah pengalaman yang kami mau. Hidup macam ini pula yang kami harapkan dari perjalanan ini.
Seperti perjalanan sebelumnya, aku selalu mencuri waktu untuk menikmati matahari tenggelam tiap harinya. Kupandangi tiap warna yang perlahan memenuhi langit. Di Berawa, perpaduan biru-jingga muda mendominasi cakrawala saat matahari tenggelam perlahan. Di Seminyak, langit menjelma sapuan merah muda yang sangat tipis. Santun di mata! Sementara di Dreamland, matahari menciptakan gradasi jingga terang, kuning pucat, lalu perlahan menjadi kelabu dan biru. Pada hari terakhir, kami menikmati salah satu pemandangan senja termagis di Pantai Kuta. Seolah langit ditumpahi cat jingga keemasan. Seolah matahari dan langit bersekongkol untuk menghadiahkan visual terbaik sebelum kami meninggalkan tanah Bali.
Apa yang kupelajari dari perjalanan kali ini?

Senyaman apa pun aku berlibur sendirian, rupanya aku tetap harus berlibur dengan sahabat secara berkala. Aku sudah pasti akan mengingat perjalanan ke Bali ini selamanya. Percakapan-percakapan yang membuat kami terbahak-bahak, seperti guyonan daddy i am scary, atau sesi bikepool karaoke di sepanjang perjalanan Uluwatu-Legian. Belum lagi dialog-dialog tanpa gangguan yang lahir begitu saja di pantai yang kami kunjungi. Semua kenangan itu tercipta karena kami memilih melakukan perjalanan ini bersama. Nampaknya, aku harus lebih sering menjadwalkan pertemuan dan liburan dengan teman.
Aku juga belajar untuk menghormati waktu dan orang yang sedang bersamaku. Maka kusimpan ponsel agar tatapanku tak hinggap di layar. Kami merakit tiap percakapan, yang garing maupun berbobot. Atau melontar lelucon-lelucon khas abah-abah.
Satu waktu, saat kami sedang mengambang di Pantai Thomas, kami melihat sekumpulan anak muda yang sedang saling mengejar, saling menceburkan ke laut, lalu tertawa tanpa henti. Secara otomatis, aku dan Billy tersenyum melihat itu.
"Umur-umur kita sih udah lewat ya bercanda kayak gitu?"
"Badan udah enggak mumpuni kayaknya."
"Kita mah berendam bareng aja udah cukup."
Kami pun tertawa.
Perjalanan pertama ke Bali mengajarkanku ihwal menikmati kesendirian. Dari perjalanan kali ini aku belajar sesuatu yang berbeda; bahwa kebahagiaan terkadang bukan sekadar tempat indah yang dikunjungi dan ketenangan yang didapat dari kesendirian, melainkan dari siapa yang berdiri di samping kita saat menyaksikannya.
Mungkin itu sebabnya yang paling kuingat dari Bali kali ini bukan hanya jingga di Pantai Kuta, debur ombak di Dreamland, donat di Dough Darlings, atau kopi di Revolver. Yang paling menetap justru tawa-tawa di atas motor, percakapan kami yang mengalir tanpa tergesa, dan perasaan hangat tiap kali menyaksikan keindahan bersama.




0 Comments:
Posting Komentar