Rabu, 25 Maret 2026

Untuk Jer

Metallic Humanoid by Majd Kara

Jika suatu waktu kata-kata ini menemukan caranya untuk berkunjung padamu, kuharap engkau sudi untuk membacanya perlahan. Layaknya mendengar kisah anak-anak yang sedang merajuk, mungkin. Atau seperti merangkai tiap suku kata seorang anak yang sedang menangis dan mengadu. Karena menurut banyak kepala, jatuh cinta membuat seseorang kekanakan. 

Engkau tak perlu melakukan apa-apa. Bacalah dengan tenang dan, semoga saja, menamatkan catatan ini tanpa rasa mual.

Jer yang kusayang,

Mencintaimu adalah sebuah proses yang cukup panjang. Pada awalnya, aku menemukan rasa nyaman dari tiap tutur yang kauucap. Suaramu, tinggi dan rendahnya serta lantang dan lembutnya, terasa seperti seorang ibu yang sedang menidurkan anaknya dengan kidung mahatenang. Setiap kali kau berada di sekitarku, aku merasa sepasang sayap mekar dari punggungmu dan memelukku hangat. Jer, jatuh cinta ternyata seperti itu rasanya. Seolah hidup menemukan ritme napasnya kembali. 

Mungkin bagimu, rasa yang kumiliki ini hanyalah setitik nila. Sesuatu yang perlu dibersihkan dengan berbagai ayat kudus hingga aku kembali suci. Atau kau akan mengingatkanku dengan penuh ketenangan bahwa rasa yang telanjur ranum di dadaku ini  sesuatu yang nista. Bahwa mencintaimu adalah sesusatu yang menyalahi kisah Khuldi (atau cerita apa pun yang berkaitan dengan itu dalam kepercayaanmu). Bahwa rasa ini akan hilang dengan sendirinya. Aku tahu, di dunia yang kauamini itu, tidak ada ruang untuk kita bisa bertaut. 

Namun, Jer, aku sudah enggan memendam rasa ini. Akan kubiarkan cinta ini hidup bersama denyut nadiku, mengalir dan memenuhi tiap rongga tubuhku. Biarlah rasa ini tumbuh mengakar bersamaku. 

Entah berapa tulisan yang kubuat atas nama dirimu. Seperti halnya Emilie Flogge yang menjadi inspirasi Gustav Klimt dalam membuat The Kiss, kepalaku pun hidup semenjak jatuh hati kepadamu. Maka, kutulis Tiga Hal yang Kutulis tentang Dirimu berdasarkan tiga nama yang kaumiliki. Kurekam pula memori yang kupunya tentangmu dalam Napak Tilas Kota. Namun, aku memang penulis yang keras kepala. Seharusnya tulisanku itu murni tentangmu. Namun, kuselipkan pula perasaanku di sana agar kautahu bahwa di dalam kehidupanmu itu, ada seseorang yang jatuh terlalu dalam dan sedang berusaha bangkit kembali. 

Jer yang manis dan penuh kasih sayang,

Seandainya aku bisa memberikan sepotong senja untukmu, tentu aku akan melakukan itu. Namun, jiwamu yang halus tentu tidak akan terpukau. Engkau bisa saja mengingatkanku untuk mengembalikan senja itu karena banyak yang membutuhkan. Welas asih sekali dirimu.

Tidak ada tuntutan apa pun dariku untukmu. Apa yang kaubaca saat ini hanyalah usahaku untuk lebih berani untuk mengakui cinta yang berkecamuk di kepalaku. Semoga engkau berbaik hati memahami liku hidupku ini. 

Izinkan pula aku menarik diri. Sulit bagiku menahan diri untuk tidak mengekspresikan rasa cinta ini kepadamu. Malu sendiri aku nantinya.

Rahayu terus hidupmu.

0 Comments:

Posting Komentar