Van Gogh Museum
Umur tiga puluh saya sudah mencapai garis akhir. Tanpa perayaan besar atau teriakan lagu ulang tahun. Saya menamatkan umur itu dengan segala tenaga yang tersisa; tertawa sesekali agar tidak gila, menangis beberapa waktu supaya hati ini tidak nyeri. Hidup saya hanya dipenuhi dengan pekerjaan lima hari dalam seminggu. Akhir pekan saya dipenuhi dengan kopi dan melancong ke wilayah Blok M atau perpustakaan yang semakin mudah untuk diakses. (Transjakarta, saya sayang kamu!)
Pada hari terakhir usia tiga puluh, saya sudah menginjakkan kaki di Bali. Sendirian, tanpa ada rencana khusus yang ingin dilakukan. Saya hanya ingin berada di tempat yang bukan rutinitas, memberi jarak sejenak dari hidup yang terasa terlalu padat untuk dipahami. Mengapa tidak Yogya saja seperti biasanya? Mungkin, saya hanya perlu suasana baru untuk umur baru. (Tidak sedalam itu, tentu saja. Saya memang pengin ke Bali.)
Hidup dalam rentang kepala tiga ternyata tidak menyenangkan. Terlalu banyak yang terjadi. Izinkan saya untuk berbagi apa-apa saja yang muncul dan hilang pada umur ini.
Sesuatu yang memunculkan gelisah
Dulu, saya bukanlah seseorang yang terlalu memikirkan ucapan orang tentang penampilan fisik. Namun, seiring hari menua dan begitu pun umur saya, apa yang dikatakan orang lain malah membuat hati seringkali gelisah. Mata saya yang sedikit aneh, bercak-bercak hitam pada wajah, double chin yang semakin kentara, rambut yang menipis, punggung yang membungkuk. Saya berusaha untuk memperbaiki gaya hidup agar, setidaknya, ada sesuatu yang saya usahakan.
Satu hal lagi yang sukses membuat saya gelisah tiap waktu; kemampuan wicara publik yang semakin memburuk. Sebagai seorang introver (berdasarkan hasil tes MBTI gratis secara daring), saya kerap kesulitan untuk berkomunikasi dua arah. Biasanya, saya selalu melabeli diri sebagai penyimak ulung sebagai bayaran atas ketidakbecusan saya dalam hal berbicara. Namun, semakin menua semakin besar pula tuntutan diri untuk terlibat berbicara secara aktif.
Sulit? Tentu saja.
Akan menjadi lebih baik pada umur baru? Harus. (Bahkan menulis harus pun membuat saya bergidik.)
Ihwal sukses dan gagal
Ada kesuksesan dan juga kegagalan yang terjadi tahun lalu. Misalnya, semua beasiswa yang saya daftar tidak ada yang lolos. Semuanya gagal pada tahapan yang berbeda; administratif, substantif, dan dalam beasiswa dalam negeri saya tidak lolos bagian skolastik. Sudah beberapa kali meminta perpanjangan waktu kepada Universitas Melbourne. Mereka memberikan semester pertama tahun ini sebagai waktu terakhir sebelum surat penerimaan hangus. Semoga dapat beasiswanya, ya.
Kegagalan yang lain? Hubungan romansa yang kandas tepat akhir tahun lalu. Cukup menyedihkan, tentu saja, mengingat waktu bersama kami yang nyaris mencapai empat tahun. Suka-duka, naik-turun, semuanya sudah kami rasakan bersama. Sedih? Tentu saja. Namun, laju roda kehidupan terus berjalan. Saya hentikan tangisan itu tepat sebelum pukul dua belas malam, sebelum kembang api tahun baru meledak di langit sana.
Lagi? Calon novel saya belum selesai. Toko buku daring saya pun akhirnya pasif.
Lalu, apa kesuksesan yang saya raih? Saya membaca banyak buku tahun lalu. Lebih banyak daripada tahun sebelumnya. Sebuah kemenangan yang menyenangkan. Bukunya pun tebal-tebal. Mohon maaf, agak sombong memang kalau masalah bacaan.
Nah, apa yang akan saya lakukan tahun ini?
Daftar lagi beasiswa
Keinginan saya untuk melanjutkan kuliah masih cukup tinggi. Sebelum api dalam diri ini padam, saya akan terus mengusahakan agar bisa menempuh pendidikan magister. Semoga tahun ini bisa kembali ke Australia. Atau ke mana pun, selama saya kembali berkuliah.
Menulis
Umur saya sudah semakin pendek. Tulisan saya pun masih saja pendek. Saya harap bisa menyelesaikan tulisan fiksi saya selekas mungkin. Agar setidaknya, nama saya tidak hanya di pusara satu saat nanti.
Baca banyak buku, termasuk nonfiksi
Tahun lalu, saya membaca banyak sekali fiksi. Tahun ini, sudah memulai membaca dua buku nonfiksi yang menyenangkan; Conversations on Love dan The Art of Loving. Sengaja membaca buku yang topiknya saya suka (dan perlu).
Lebih banyak berbincang
Perlu penjelasan lebih mendetail? Haha
Bertemu teman
Akan saya agendakan banyak pertemuan dengan teman-teman. Akan saya ingat detail pertemuan kami di kepala saya yang mudah lupa ini.
Seperti itulah apa yang saya telah dan hendak dicapai pada umur baru ini. Semoga perjalanannya lancar.
Rahayu,
Kawi

0 Comments:
Posting Komentar