untukmu yang selalu menyanyikan kidung kudus
Hari yang lalu, aku kembali ke kota singgah yang pernah mempertemukan kita. Engkau dengan petikan gitar yang mengalun ke telinga, lir bisik halus menenangkan yang berakar dari segala firman. Aku dengan kata-kata yang selalu kuandalkan, tetapi tak pernah ada waktu untuk kaueja. Di sana, nadi kita sempat mengalirkan alur hidup di tengah bising suara masa depan dan hantaman masa lalu.
Di antara empat dinding itu, engkau biasanya duduk termenung. Matamu yang teduh, yang selalu menyabit saat tersenyum, merayap pelan di layar komputermu. Tiap waktu, aku ingin memeluk bola mata itu dan memastikan tak ada satu pun gelombang cahaya yang menyakiti iris matamu. Tiap detik, aku ingin meringankan apa-apa yang membuat pundakmu membungkuk dan hatimu redam-remuk. Pada momen itu, aku tidak peduli pada napasku yang alit, tubuhku yang menjelma asbak rokok, dan cabikan anjing di tiap koridor yang berharap aku enyah dari hadapan mereka. Aku hanya ingin engkau. kurang dan lebihmu.
Suatu hari pada pertengahan Juni, dalam adegan paling ngilu, aku menjadi jiwa penuh iri dengki. Aku iri pada jaket abu yang memeluk dirimu, sedangkan aku harus berdiri di belakang pintu tanpa bisa menggapaimu. Aku iri pada senar yang kau sentuh, sedangkan aku hanya mampu bermimpi bisa menggenggam jemarimu itu. Aku iri pada tiap oksigen yang memenuhi tubuhmu dan melanggengkan hidup, sedangkan aku berusaha mati-matian hidup agar mampu menatap keindahanmu. Segala tentangmu; jiwa, raga, mimpi, memori, dan tiap kidung kudus yang kaulantunkan.
Hari yang lalu, aku kembali ke kota singgah yang pernah mempertemukan kita. Aku memulangkan adegan-adegan itu ke rumahnya.
0 Comments:
Posting Komentar