Minggu lalu, saya bertemu Billy setelah sekian lama dipisahkan jarak. Entah sudah berapa lama kami tidak bersua, mungkin lebih dari setahun. Namun setiap kali bertemu, rasanya seperti tidak pernah ada jeda di antara kami. Tidak ada canggung yang tumbuh karena waktu. Semuanya kembali ke titik yang sama: akrab, ringan, seperti perpisahan tidak pernah benar-benar terjadi.
Saya mengenal Billy dari sebuah organisasi. Kedekatan yang awalnya bersifat organisasional, kini tumbuh menjadi persahabatan yang tak bersyarat. Nampaknya, Billy adalah salah satu orang yang selalu ada di setiap babak kehidupan saya. Dia hadir pada masa-masa organisasi, selalu berkomunikasi saat saya di Australia, salah satu orang pertama yang bertemu dengan saya pada saat menjejakkan kaki kembali di tanah air. Dia mengirimkan obat saat gejala Covid pertama saya muncul. Dia pula yang mengantarkan saya ke terminal saat saya mendapatkan pekerjaan di ibukota. Naik motor keliling Jakarta untuk pertama kali? Dengan Billy (Gojek dan Grab, sebenarnya. Namun, ini kan tentang sahabat. Hehe)
Setelah sekian lama dipisahkan jarak dan waktu, kami akhirnya bertemu lagi. Sepulang dari Bali, saya merasa ingin kembali menyentuh hal-hal yang terasa akrab, dan Billy adalah salah satu nama pertama yang terlintas. Pada detik pertama pertemuan, cerita-cerita yang lama tertahan langsung mengalir begitu saja: tentang hidup, pekerjaan, dan hal-hal kecil yang entah kenapa terasa penting.
Dia bercerita tentang kegemarannya pada parfum. Saya menyimak caranya mencintai dunia itu dengan sungguh-sungguh. Ada satu momen kecil yang diam-diam tinggal di hati saya: saat ia mengendus sebuah aroma, lalu teringat pada saya—pada buku-buku yang saya baca. Billy, seperti biasa, mengingat dengan cara yang tidak biasa. Ya walaupun dia agak jengkel saat saya membandingkan Dyptique dengan salah satu parfum dengan harga terjangkau yang (saya pikir) beraroma sama.
Bersama Billy, saya tidak merasa perlu menjadi siapa-siapa selain diri sendiri. Tidak ada rasa minder, tidak ada upaya untuk terlihat lebih baik dari yang sebenarnya. Percakapan kami jarang menyentuh bagian paling rapuh dari diri saya, tetapi justru di situlah letak kenyamanannya. Kami lebih sering tertawa.
Seperti saat kami menahan sakit perut karena memarodikan ASMR ibunda Gen Halilintar. Atau ketika kami membahas seorang satpam yang mirip karakter kartun. Atau saat dia bernyanyi keras mengikuti lagu dangdut dari peserta D’Academy...saat naik motor.
Dan mungkin, di situlah letak arti persahabatan yang sebenarnya: bukan pada seberapa sering bertemu, tapi pada bagaimana waktu tidak pernah benar-benar mampu menciptakan jarak.

0 Comments:
Posting Komentar