Selasa, 20 Januari 2026

Tiga Hal yang Kutulis tentang Dirimu

Keith Haring, 1987

1. 

Pada suatu malam, saat lelah menguasai tubuhmu yang dilecuti keadaan, kubangun sebuah rumah di pundakku yang tak seberapa lebar. Engkau bisa menetap di sana sembari membaca buku yang tiap aksaranya menjelma kata, kalimat, paragraf, dan kisah api yang mencintai kayu dan menjadikannya abu. Atau engkau bisa memetik gitar dan mendendangkan lagu tentang karunia Tuhan. 

Di rumah itu, engkau bisa menangis semaumu, sesuai rasa dan waktu yang kauperlu. Dari tiap tetes air yang luruh dari matamu itu (demi alam semesta, aku takkan pernah bosan tersesat di sana), tumbuhlah trembesi yang siap mengelus puncak kepala. Hingga engkau tenang. 

2.

Pada suatu malam, saat engkau meminta dikuatkan, aku akan menjelma arca-arca yang tak goyah dimakan waktu. Prajurit terakhir di medan perang. Senandung ibu yang menenangkan anaknya yang menangis di tengah malam. Kulakukan segalanya agar lekuk senyum di bibirmu tak pernah padam. Karena melihatmu bahagia laksana menyaksikan pertunjukan kunang-kunang terakhir di padang ilalang. Laksana menyimak lantunan harpa yang ribuan tahun telah hilang. Laksana waktu memilih untuk diam saat lenganmu memelukku pada malam terakhir pertemuan.

3.

Aku mengingat engkau sebagai seorang sulung; satu jiwa yang pertama kali menjalani hidup. Maka, engkau selalu menyeimbangkan tiap langkah, menjauhkan nilai-nilai berwarna merah, dan menerbitkan senyum paling indah. Kaukubur seluruh berita tentang jatuh, rubuh, hancur, lebur, lebam, dan tak berdaya. Lalu, engkau menyanyikan beragam jenis kinanti berharap tabah mulai menyelimuti tiap nyeri di tubuh. Pada saat itu, kulantunkan doa dari seluruh penjuru agar segala hal yang terjadi dalam hidupmu bisa menguatkan. Dan semoga jiwamu turut dikuatkan.

0 Comments:

Posting Komentar