Sabtu, 01 Juni 2019

Lima Sorotan dari Pengalaman Australia Saya (Bagian 1)

Saya pernah mengatakan jika saya tidak akan terlalu merindukan Australia. Dulu, saya menganggap Australia hanyalah wilayah peraduan di mana saya wajib berada di sana selama satu tahun (yang pada kenyataannya hanya sebelas bulan). Saya salah besar. Saya sangat merindukan Australia. Beberapa hal ini adalah sorotan dari pengalaman saya selama di Australia.

Southern Cross pada sore hari yang hangat.
Sebenarnya, saya jatuh cinta pada Southern Cross tanpa syarat. Tempat ini mengajarkan saya arti pergi dan kembali. Adalah Southern Cross yang membuat saya semangat untuk menyambut akhir pekan selama di Australia. Pada hari Jumat, saya akan membeli tiket kereta pukul 12.00 dan sampai di Southern Cross sekira 15.00. Tinggal menunggu beberapa jam, saya sudah bisa menikmati senja di stasiun ini.


Ada suatu keindahan yang tak bisa saya deskripsikan saat sinar matahari menyelinap dari arah barat. Menyelundup ke peron-peron stasiun di mana banyak manusia sedang memenuhi kursi tunggu sembari membaca buku, bercengkerama, atau mendengarkan musik.  Menghangatkan perpisahan yang tercipta di depan gerbang peron. Melbourne pada sore hari itu cantik, tetapi Southern Cross menjelang senja adalah surga. Saya akan selalu merindukan detik-detik kedatangan di Southern Cross sembari menyesap kopi yang saya beli di kantin kereta.

Menghabiskan akhir pekan di Cobden
Perjalanan yang selalu saya nantikan setiap akhir pekan. Jarang sekali saya menghabiskan Jumat s.d. Minggu di Warrnambool. Bukannya saya tidak suka tempatnya, tetapi saya butuh menenangkan diri setelah bekerja keras selama empat hari. Plus, saya harus mengobrol dengan teman senasib seperjuangan.


Tempat terdekat yang bisa saya kunjungi adalah Cobden; lokasi di mana Kang Agung bertugas. Cobden adalah kota kecil yang tidak terlalui jalur kereta api. Untuk mengunjungi Kang Agung, saya harus naik kereta sampai Camperdown, lalu menggunakan bus atau taksi selama tiga puluh menit. Hanya ada satu pasar swalayan dan beberapa kedai kopi di sana. Danau Cobden, salah satu daya tarik di sana, sering sekali kami kunjungi hanya untuk berswafoto atau menggunakan wahana olahraga yang tersedia. Cobden memang sepi, tetapi saya telanjur nyaman untuk bermalam di sana.

Minum teh susu pada malam hari yang sunyi sembari menonton film adalah sebuah kebahagiaan!

Pancake menjadi makanan favorit saya.
Beberapa bulan pertama, saya agak kesulitan menemukan makanan yang saya suka. Ibu Kav, orang tua koordinator saya, sering kali memasak makanan Indonesia agar saya tidak rindu kampung halaman. Namun, lidah Indonesia saya perlu dipuaskan oleh makanan bervetsin. Makanan orang Australia acap kali terlalu sehat untuk sistem pencernaan saya. :)

Walhasil, saya mencoba berdamai dengan keadaan. Saya mencari makanan sana yang saya bisa konsumsi dan mampu a) mengenyangkan perut saya dan b) membuat indra pengecap saya senang. Bertemulah saya dengan pancake. Hunni dan Pancake Parlour adalah dua kedai pancake yang sangat saya sukai. Setiap pagi, saya membeli pancake di Hunni sembari menyesap secangkir kopi. Pada akhir pekan di Melbourne, saya selalu menyempatkan makan pancake di Parlour.


Saya juga bisa memasak pancake, lo! Tidak senikmat dua kedai itu, tetapi masih diterima oleh perut. Tuh, calon suami yang baik.

Perjalanan pulang dari sekolah.
Pulang dari sekolah adalah momen yang saya sukai. Bel pulang berdering sekira pukul 15.20 dan saya akan mulai jalan dari sekolah pukul 16.00. Empat puluh menit saya gunakan untuk menyiapkan materi keeseokan harinya atau menyelesaikan revisi tulisan anak-anak.

Saya jarang sekali naik bus untuk pulang ke rumah. Saya lebih memilih untuk berjalan kaki melalui rute langganan yang sangat saya suka.


Pemandangan taman akan saya lalui sesaat setelah keluar dari area sekolah. Biasanya, saya main ayunan di taman selama beberapa menit, baru melanjutkan perjalanan. Saya akan memasuki area pusat bisnis dan mengunjungi toko buku (sebatas melihat koleksi terbaru mereka) dan pasar swalayan (untuk menyetok makanandi kulkas, tentu saja). Setelah itu, saya melalui sebuah jalan berlantai rumput yang sesekali dihiasi dandelion. Tak jarang pula saya ditemani kerbau-kerbau yang sedang menyantap makan sorenya. Setelah menghabiskan tiga puluh menit di perjalanan, saya akan sampai di rumah dan langsung memasak makan malam. Tidak ada sesuatu yang spesial, kan? Tapi rutinitas itu sukses membuat saya rindu.

Vance Joy dan Melbourne International Film Festival 2018
Dua hal ini bisa disebut sebagai kejadian paling menyenangkan selama di Australia. Untuk pertama kalinya saya menyanyikan Riptide bersama ribuan penonton dan penyanyi aslinya, Vance Joy! Menjelang tengah malam, saya dan penggemar James (red: nama asli dari Vance Joy) lainnya menyanyikan Riptide lagi di dalam trem menuju Flinders. Suara saya hampir serak karena terus-menerus meneriakkan lirik lagu James. Iya, meneriakkan. Bukan menyanyikan. Saya ditemani oleh Teh Vera, penggemar James garis keras juga.

MIFF 2018 adalah pengalaman festival film pertama saya! Beberapa minggu sebelum festival dimulai, saya dan Teh Vera memesan tiket untuk menyaksikan delapan film. Saya sangat kagum dengan antusiasme masyarakat sana terhadap sebuah film. Terlihat sekali kalau mereka sangat mengapresiasi setiap kerja keras kru film. Riuh tepuk tangan sering kali meramaikan akhir film. Tak jarang, saya tepuk tangan sembari menangis karena film yang saya tonton terlampau menyedihkan.

Di sana, saya tidak perlu buru-buru menghapus air mata kalau menangis karena film. :)

Lima sorotan itu benar-benar membuat saya rindu Australia. Sebenarnya, masih ada lima sorotan yang perlu saya tuliskan. Saya akan abadikan sisa sorotan di tulisan selanjutnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar